Tampilkan postingan dengan label AKTIVIS LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AKTIVIS LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Desember 2013

Antara Menjadi Guru dan Kakak Yang Baik

     Membangun sebuah komunitas bukanlah hal yang mudah, dan juga bukan merupakan hal yang sulit, ini hanya tentang bagaimana kita memulainya, meniatkanya dan merumuskan tujuan yang ingin kita capai. Yang jelas, harus ada dampak positif bagi kita dan orang-orang yang terlibat didalamnya. Sudah hampir setahun saya membangun komunitas ini, namanya SAFE+ Social Action For Education, Environment and Empowerment atau dalam bahasa Indonesia artinya Aksi Sosial untuk Pendidikan, Lingkungan dan Pemberdayaan Remaja. Ya, komunitas ini saya bangun bersama teman-teman saya, mereka adalah Faisal Irwanto, mahasiswaa dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Jakarta, (ex Politeknik Negeri Bandung), Luthfi Muhammad Iqbal mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Angga Nugraha, dari Universitas Islam Bandung. Mungkin jika ditanya satu persatu mengenai latar belakang ingin mendirikan komunitas ini, jawabanya akan berbeda-beda, tetapi dari diri saya sendiri, saya terinspirasi dari Nadya Hutagalung yang sempat menjadi pembicara di Business For Environment Global Summit Jakarta 2011 lalu, bagaimana caranya membangun sebuah komunitas yang berwawasan pendidikan dan lingkungan, selain itu juga saya ingin memberikan pendidikan gratis untuk anak-anak dilingkungan sekitar saya. Karena dari kecil saya tidak pernah merasakan yang namanya les/bimbingan belajar seperti anak-anak beruntung lainya, maka itu saya ingin agar anak-anak disekitar rumah bisa merasakan bagaimana rasanya mendapatkan pelajaran tambahan diluar jam sekolah tanpa harus membayar. Dibentuklah SAFE+, komunitas dengan aksi sosial yang memberikan pendidikan gratis untuk anak-anak disekitar lingkungan kami setiap hari minggunya. Saya juga yakin, teman-teman saya yang lainya mempunyai tujuan yang sama walau dengan latar belakang yang berbeda.

SAFE+


    Setiap hari minggu, kami mengadakan kegiatan pembelajaran di lingkungan Masjid Al-Fajar di Jl.LMU Suparmin, Lanud Husein Sastranegara Bandung. Kami memang belum memiliki ruangan dan kelas tetap, akan tetapi kebaikan hati DKM Masjid Al-Fajar untuk meminjamkan ruang kelas Taman Kanak-kanak membuat kami semakin mudah untuk melaksanakan aktivitas mingguan kami. Biasanya setiap hari Minggu, ada materi-materi pokok yang diajarkan kepada anak-anak yang hadir di SAFE+. Kebetulan, mayoritas anak yang bergabung dengan SAFE+ adalah anak-anak di lingkungan rumah saya, jumlahnya hampir mencapai 50 anak. Ada yang masih duduk di bangku TK, ada yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan ada juga yang sudah duduk di bangku SMP. Kami membagi mereka kedalam empat golongan, golongan pertama yaitu siswa/i kelas satu sampai tiga SD, golongan dua yaitu kelas empat sampai kelas enam SD, golongan tiga yaitu kelas satu sampai kelas tiga smp, golongan terakhir adalah golongan khusus, yaitu anak-anak yang masih duduk dibangku taman kanak-kanak. Kami memulai kegiatan dari jam 9 sampai jam 1 siang, jam pertama biasanya kami berikan materi berupa Pendidikan Lingkungan Hidup atau Pengetahuan Umum, dilanjutkan dengan jam kedua kami berikan mereka pelajaran-pelajaran disekolah seperti Bahasa Inggris, IPA, IPS dll. Bentuk pembelajaranya kami pisahkan anatar golongan dengan pengajar yang berbeda tentunya. Dengan jumlah kami yang hanya berempat, tentu tidak mungkin kegiatan belajar terlaksana jika tidak dibantu oleh tenaga pengajar yambahan sukarela lainya. Sering sekali para volunteer datang membantu kami, biasanya mereka adalah mahasiswa dari UNISBA, UPI, ITB, UNJANI dan POLBAN. Kedatangan volunteer sangat membantu kami dalam mengajar anak-anak, karena memang tidak semua materi kami ketahui, jadi kadang-kadang kami saling bertukar pikiran mengenai mata pelajaran yang harus diberikan kepad anak-anak di SAFE+.

SAFE+ dan Pengajar Sukarelawan


     Kalo ada yang bilang lelah sih memang terasa lelah mengajar anak-anak dihari minggu dari pagi hari sampai adzan dzuhur berkumandang, tetapi rasanya ada kepuasan tersendiri setelah belajar bersama mereka. Bagaimana  mungkin saya dan teman-teman lain yang terlibat disetiap kegiatan SAFE+ menjadi guru yang baik sementara kami sendiri masih perlu banyak bimbingan dari guru-guru dan dosen kami. Disinilah tempatnya, te,pat dimana kami bisa memposisikan diri sebagai kakak dari anak-anak yang hadir di SAFE+, dan mungkin bisa menjadi seorang guru, tapi saya yakin, kami masih jauh belum sempurna untuk menjadi seorang guru. Ternyata begini rasanya, ketika harus berbicara didepan, ketika harus mengajarkan sesuatu, ketika harus bersabar saat ada yang tidak memperhatikan, ketika harus menahan emosi karena mereka hanyalah anak-anak. Semoga banyak manfaat yang kami ambil dan anak-anak dapatkan disini, saya dan teman-teman lainya tidak akan berhetnti sampai disini. Harapan kami, banyak mahasiswa maupun remaja yang bergabung bersama kami, selebihnya, ayo bangun komunitas yang sama didaerahmu, berikan anak-anak disekitar kita terutama mereka yang sangat membutuhkan pendidikan dengan pengajaran yang bisa menumguhkan kesadaran anak-anak akan pentingnya pendidikan, pentingnya mempunyai cita-cita, pentingnya mengejar impian, berusaha dan tetap mencintai lingkungan :)

SAFE+

SAFE+
Terimakasih telah berkunjung ke blog saya :)
Follow  me on twitter 
@diki_irdan

Senin, 09 Desember 2013

Who is she ? Nadya Hutagalung

Supermodel, actress, entertainer, entrepreneur, eco-warrior.

Born in Sydney to an Australian mother and an Indonesian father, Nadya’s career took off at the early age of 12, when she headed to Tokyo to pursue a modeling career. Her distinctive looks and vibrant personality brought plenty of work with top international publications all over the world. Her ease and confidence in front of the cameras later solidified her incredible success as MTV’s Asia pioneer VJ entertaining over 70 million households across Asia.



As one of Asia’s most recognized faces, Nadya has devoted her time and voice to environment advocacy. She made headlines with building Singapore’s first ever eco-home from scratch, a project three years in the making (and still ongoing, she adds). From that task grew Nadya’s favorite project by far – GreenKampong – which became an online resource for anyone looking for information and news on sustainable living. Nadya has also been Singapore’s Ambassador for the World Wildlife Fund’s Earth Hour for the last five years. This year, Nadya is proud to be invited to be on the board of The Green School which just won the Greenest School On Earth title awarded by the US Green Building Council.



In 2009, Nadya was voted one of Singapore’s Top 20 most influential people by CNN. That same year she was also awarded the title, Best Host TV Host by ELLE magazine, a testament to her staying power in a tough industry.
This year, MNC Lifestyle Channel (Indonesia) presented Nadya with the MNC Lifestyle for being an inspiration to all Indonesian women. The Singapore Innovation Park also presented Nadya with the SIP Fellow Awards in recognition of her outstanding achievements as a changemaker, thought and action leader, who are shaping a more inclusive, sustainable and better world.
For her work in championing conservation Nadya is nominated “The International Green Awards: Most Responsible International Celebrity 2012” alongside other eco-conservationists like George Clooney, Penelope Cruz and Vivienne Westwood.
Nadya is constantly seeking new ways to expand herself both personally and professionally, and has proven herself in the past as having an overwhelming commitment to anything she undertakes. She is excited to join the Asia’s Next Top Model team to have the chance to make a difference in the lives of aspiring young girls around Asia.

Source : nadyahutagalung.com

Biarkan Gajah Menjadi Gajah

Another shocking reality that i knew from Let Elephants Be Elephants / @letelephantsbe is :

Elephant Poaching Could Wipe Out 20 Percent Of African Population In Next Decade, Report Shows

JOHANNESBURG (AP) — As many as 20 percent of Africa's elephants could be killed in the next 10 years if illegal poaching continues at the current rate, according to new data released Monday at the opening of the Elephant Summit in Botswana.
An estimated 22,000 elephants were illegally killed across Africa in 2012, slightly lower than the 25,000 elephants poached in 2011, according to a report by the Convention on International Trade in Endangered Species, or CITES.
The elephant killings took place at 42 sites across 27 Africa countries, said the CITES report.
"With an estimated 22,000 African elephants illegally killed in 2012, we continue to face a critical situation. Current elephant poaching in Africa remains far too high, and could soon lead to local extinctions if the present killing rates continue. The situation is particularly acute in Central Africa where the estimated poaching rate is twice the continental average," said John E. Scanlon, CITES Secretary-General.
The poaching data was released at the African Elephant Summit in Gaborone, Botswana's capital. The conference on elephants is being convened by the Botswana government and the International Union for Conservation of Nature (IUCN).
In September 2013 cyanide was used to kill more than 300 elephants in Zimbabwe's Hwange National Park in the "worst single massacre in southern Africa for 25 years," said the IUCN in a statement.
Africa current has about 500,000 elephants, according to the IUCN. Elephants in Central Africa are bearing the brunt of the poaching, although high poaching levels in all sub-regions mean that even the large elephant populations in southern and eastern Africa are at risk unless the trend is reversed, said the IUCN.
Poverty and weak governance in elephant range states, together with rising demand for illegal ivory in consuming nations, are believed to be the key factors behind the increase in elephant poaching in recent years.
The elephant summit is being convened to agree on policies to end the illegal ivory trade and secure viable elephant populations across Africa, including strengthening national laws to tackle wildlife crime and enhancing cooperation between countries.

Source : www.huffingtonpost.com 

Senin, 02 Desember 2013

Mengajar Adalah Sebuah Kemewahan

Saya tidak pernah terfikir untuk menjadi seorang guru meskipun saya tahu kalau profesi itu bukanlah profesi yang sembarangan, mulia, sangat mulia ! Entah darimana datangnya hal ini, tetapi ketika saya duduk di bangku kelas 2 SMK dan mengikuti sebuah perlombaan menulis nasional bertajuk B4E ( Business For Environment ) Global Summit Writting Competition 2011 bersama Student Globe, sepulang dari lomba tersebut saya menjadi termotivasi untuk bisa mengajar dan mengedukasi anak-anak khususnya di bidang Lingkungan Hidup dan Bahasa Inggris.



Nadya Hutagalung, menjadi salah satu panelis dalam talkshow B4E Global Summit saat itu, dan memang saya belum terlalu mengenal beliau karena saya belum tahu benar siapa dan darimana beliau. Sepulang dari kegiatan B4E Global Summit Writting Competition, saya menangkap banyak hal yang disampaikan Nadya Hutagalung dan panelis lainya. Mulailah saya browsing tentang Nadya Hutagalung and it's A BIG WOW for her ! Saya langsung termotivasi untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Nadya.

Nadya Hutagalung


 Sebagai seorang model, Nadya mulai memiliki rasa keterlibatanya terhadap kegiatan lingkungan dengan membangun website greenkampong.com yang diinisiatifkan untuk memberitakan isu-isu lingkungan dan gaya hidup ramah lingkungan melalui makanan, pakaian dan lainya. Bukan hanya itu saja, caranya untuk mengedukasi orang-orang ia tunjukan dengan membangun rumah ramah lingkungan pertama di Singapura yang ia mulai dari dasar. Bahkan, Nadya didaulat menjadi duta besar Singapura untuk Earth Hour, dan saat ini, bersama rekan zoologistnya, Nadya sedang merintis kampenye #LetElephantsBeElephants.




Jika dijelaskan selengkapnya tentang Nadya Hutagalung, mungkin tidak akan selesai diposting ini. Mulailah saya dan beberapa teman saya membangun sebuah komunitas yang mengajarkan anak-anak setiap minggunya dengan materi Bahasa Inggris, Lingkungan Hidup dan Pengetahuan Umum, namanya SAFE+ (Social Action For Education, Environment and Empowerment of Youth Generation ) .Pengajaran ini kami lakukan secara cuma-cuma untuk anak-anak SD dan SMP diwilayah sekitar lingkungan kami. Saya, Iqbal, Faisal dan Angga pun mulai memperluas relasi komunitas kami dengan membuka tiga cara donasi, yang pertama donasi berupa dana perusahaan atau perorangan, yang kedua donasi berupa buku-buku bekas dan atau bibit tanaman untuk ditanam dikebun lingkungan anak-anak, yang ketiga adalah voluntary action, aksi sukarelawan dari kalangan pelajar maupun mahasiswa untuk bergabung dan mengajar anak-anak bersama kami setiap hari minggunya secara sukarela.



Sekarang ini memang kegiatan di SAFE+ sedang diliburkan dulu, karena memang kesibukan kakak-kakak pengajar yang memasuki semester tiga dan kegiatan lainya dikamous. Semoga saja ada diantara rekan-rekan yang berdomisili dikawasan Bandung untuk bersedia bergabung dan mengajar anak-anak di SAFE+.


Ternyata memang benar, mengajar adalah sebuah kemewahan ...


Contact : 
Twitter : http://www.twitter.com/@SAFEducation
Facebook : http://www.facebook.com/SAFEducation


Senin, 25 November 2013

Nadya Hutagalung

TENTANG NADYA HUTAGALUNG

Nadya adalah seorang aktivis lingkungan, desainer perhiasan ekosentris dan tokoh terkenal di Singapura dan Asia.

Terpilih sebagai salah satu wanita paling cantik dan bergaya, hanya sedikit bintang Asia yang bisa menandingi popularitas Nadya Hutagalung. Sebagai salah satu VJ MTV pelopor yang sangat dicintai, Nadya telah menghibur lebih dari 70 juta keluarga di seluruh Asia. Usahanya telah membuahkan kesuksesan, ketenaran dan penghargaan, Tidak hanya sampai di situ, setelah awal yang sukses di dunia hiburan, Nadya melanjutkan kerja kerasnya dan menjadi wanita yang paling laris, serba bisa dan sukses di Asia.

Nadya Hutagalung


Ia terpilih sebagai salah satu Asia’s Leading Trendmakers oleh Asiaweek magazine bersama Dalai Lama, Michelle Yeoh, dan Chow Yun Fatt, untuk kemampuannya dalam memberikan inspirasi dan menarik perhatian publik. Di tahun yang sama, ia juga terpilih sebagai Showtime Personality of the Year oleh Singapore’s The New Paper, dan Singapore’s Most Gorgeous Woman oleh pembaca Female magazine. Nadya juga ditunjuk sebagai salah satu dari sepuluh besar Shining Stars di Televisi Indonesia oleh majalah Indonesia, Bintang.

Saat ini Nadya sedang membangun sebuah rumah hijau dan menjadi duta World Wildlife Funds Earth Hour di Singapura, mendukung gerakan hijau untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi semua. Minatnya pada warna dan gaya membawanya ke dunia lukis melukis, yang juga didukung oleh ibunya yang seorang seniman. Pameran karya seninya yang baru-baru ini digelar telah membantu mengumpulkan dana untuk Tsunami Relief Fund, dan memungkinkannya menyalurkan semangatnya untuk menolong sesama.

 
Singapore Firts Ever Eco Home By Nadya Hutagalung

Gayanya yang kreatif dan berkelas, baik dalam kehidupan maupun fesyen, telah menempatkannya pada kelas tersendiri dan memicunya untuk mendirikan perusahaan perhiasan bernama OSEL, yang dalam bahasa Tibet berarti Cahaya Terang. Nama yang sangat sesuai. Dengan matanya yang unik, Nadya berhasil menciptakan buah karya yang abadi dan mempesona. Sungguh koleksi yang mengundang kagum.

Semangatnya akan kehidupan mendorong Nadya untuk menawarkan bantuan di manapun dan kapanpun ia dibutuhkan; karena itu kegiatan amal juga mengambil peranan penting dalam hidupnya. Ia membagi waktu luangnya untuk mendukung pelestarian spesies-spesies langka, meminjamkan suaranya untuk meningkatkan kesadaran akan masalah-masalah wanita, melukis untuk pameran seni amal bagi Tsunami Relief Fund dan menjadi tenaga sukarelawan serta mengumpulkan dana (untuk korban bom Bali dan gempa buni Yogyakarta).

Nadya Hutagalung
Nadya terus mencari cara untuk mengembangkan dirinya baik secara personal maupun profesional, dan telah membuktikan dirinya di masa lampau dengan komitmennya yang luar biasa untuk apapun yang dijalaninya. Lalu, apa yang menanti di masa depan?
Greenkampong.com

greenkampong.com

Source : http://jefrysibuea.blogspot.com/2010/10/tentang-nadya-hutagalung.html

Rabu, 09 Oktober 2013

Pemuda, Kertas dan Lingkungan

Ini adalah artikel yang saya buat untuk memenuhi salah satu tugas dikampus, mata kuliah PR-WRITING.

Kalo ditanya kenapa judulnya berbau lingkungan hiddup , ya karena saya ingin sedikit demi sedikit menyebarkan pesan kepada setiap orang bahwa hal sekecil apapun yang dilakukan untuk menjaga lingkungan akan sangat bermanfaat untuk alam sekitar.

Semoga bermanfaat :)


PEMUDA, KERTAS dan LINGKUNGAN ?

Sejak kita duduk di bangku sekolah dasar bahkan bangku taman kanak-kanak, sering sekali kita dengar atau baca tulisan “ Buanglah Sampah Pada Tempatnya “ atau “ Kebersihan Sebagian Dari Iman “ . Mengapa begitu ditekankan sekali hal seperti ini ? Bahkan tak jarang dikawasan perkantoran dan tempat-tempat umum lainya masih saja ditemukan  peringatan seperti demikian. Inilah permasalahanya, Indonesia negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 didunia setelah Amerika Serikat dan sebelum Brasil yang berada diurutan ke-5 berdasarkan data statistik Bank Dunia adalah negara dengan urutan ke 100 dalam hal kebersihan.  Mengharukan !  
Bicara soal kebersihan lingkungan suatu negara, tentunya tidak akan lepas dari tindak tanduk masyarakatnya dalam kebiasaan membuang sampah. Bila kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat memang kurang memperhatikan kebersihan lingkunganya. Contohnya saja di beberapa kawasan padat penduduk kota-kota besar di Indonesia, banyak sekali sampah berserakan di sepanjang trotoar jalan raya, apalagi di gang-gang pemukiman penduduk. Kita bisa lihat jika ada tempat sampah, tetapi tetap saja sampah masih berserakan dimana-mana. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Ya, kesadaran diri atau   self aawareness” masyarakat  yang masih sangat kurang adalah permasalahan bagi kita semua.
            Tidak semua masyarakat dapat dijangkau dengan pemahaman lingkungan hidup yang sama, kita harus melihat latar belakang kehidupan sosial dan budaya mereka. Sebagai pemuda sudah saatnya kita bergerak untuk memberikan pengaruh positif terhadap masyarakat Indonesia. Mari kita awali dengan kertas. Kertas adalah salah satu jenis sampah yang sering kita jumpai dikawasan sekolah, kampus, kantor dan rumah. Mungkin sebagian orang menganggap sampah kertas tidak terlalu berbahaya dan merugikan, padahal dibalik sampah kertas, ada banyak hal yang patut kita khawatirkan.
Salah satunya adalah deforestasi, atau disebut dengan penggundulan lahan hutan. Defosrestasi adalah mengalihfungsikan lahan hutan dan menjadikanya kawasan non hutan sehingga merusak kelestarian alam dan keanekaragaman hayati didalamnya. Dampak yang dihasilkan akibat deforestasi tidak hanya dalam satu ruang lingkup saja,namun berpengaruh pada hampir semua faktor kelestarian lingkungan,diantaranya :

·         Produksi kertas menjadi salah satu penyebab utama dalam deforestasi hutan terutama di Indonesia.
·         Satu batang pohon mampu menyediakan oksigen untuk tiga orang dalam bernafas.
·         Satu kilogram kertas memerlukan 234 liter air untuk memproduksinya.
·         Produksi satu ton kertas menghasilkan gas karbon dioksida seberat 2,6 ton,setara dengan emisi gas buang kendaraan roda empat selama enam bulan berkendara.
·         Satu ton kertas dalam setiap proses produksinya menghasilkan 72.200 liter limbah cair dan 1 ton limbah padat.
·         Industri kertas merupakan pemakai energi terbesar ke-3 di dunia.

Gambar 1. Deforestasi Hutan
Solusi ?
Dari fakta-fakta tersebut diatas, pemuda memiliki peranan penting untuk bisa mngedukasi masyarakat awam tentang pengelolaan sampah terutama sampah kertas. Mencegah pencemaran sampah kertas yang dianggap sepele namun pada kenyataanya berdampak buruk bagi kesejahteraan dan kehidupan manusia dapat dilakukan dengan cara termudah oleh generasi muda dan menyebarkanya kepada semua kalangan.

1.       Menghemat Kertas 

Jangan menggunakan kertas terlalu banyak. Jika anda sedang bepergian dan membutuhkan buku catatan, daripada membeli buku catatan dan mengeluarkan kocek dari saku anda, lebih baik anda memanfaatkan gadget atau handphone anda untuk mencatat segala sesuatu yang seperlunya dicatat, seperti point-point tugas dan keperluan lainya. Mengapa harus dengan handphone atau gadget ?  Sekarang zaman sudah canggih, alangkah bijaksananya jika kita memanfaatkan teknologi dan dapat mengurangi penggunaan sumber daya alam seperti kayu yang tentunya diproses menjadi kertas.

2.  Daur Ulang Kertas 

Mungkin anda sering melihat sampah kertas berserakan dimana-mana. Alangkah baiknya jika kita memiliki sampah kertas lalu mengumpulkanya untuk kemudian diproses menjadi daur ulang kertas. Memang tidak mudah, namun hal ini akan bermanfaat bagi anda dan bagilingkungan kita. Pertama-tama, kertas dikumpulkan, lalu disobek menjadi bagian-bagian terkecil. Kemudian direndam didalam air, setelah itu didiamkan selama kurang lebih 3-5 hari. Agar lebih cepat halus, bubur kertas bisa diblender sehingga menghasilkan bubur kertas yang halus. Setelah menjadi bubur kertas, proses daur ulang untuk menghasilkan kertas baru pun bisa dilakukan, Dengan menyaring bubur kertas pada bingkai kain kasa dan mengeringkanya. Setelah kering, kertas daur ulang pun bisa digunakan untuk keperluan anda .

3.       Membuat Green Books

Mendengar kata greenbooks, pasti tertuju pada maksan buku hijau. Tunggu dulu, bukan ini makna yang sebenarnya. GreenBooks adalah buku daur ulang yang dibuat dari kertas bekas yang masih memiliki area untuk menulis. Contohnya pada lembar kerja siswa dan kantor, biasanya dibalik halaman kertas ada area kertas yang masih kosong. Membuat greenbooks adalah solusi termudah untuk mencintai lingkungan dengan memanfaatkan kertas bekas. Ukuran greenbooks bisa disesuaikan sesuai dengan keinginan anda. Greenbooks sendiri sudah dipublikasikan olh banyak pihak, salahsatunya komunitas berbasis pendidikan lingkungan hidup di Bandung yang dipelopori beberapa mahasiswa di Kota Bandung yang salahsatunya berasal dari Politeknik LP3I Bandung Prodi Hubungan Masyarakat. Komunitas ini mengajarkan anak-anak didalamnya untuk mendaur ulang kertas bekas dan menjadikanya greenbooks. Kampanye greenbooks pun disampaikan kelompok tiga pengabdian pada masyarakat Garut Politeknik LP3I Bandung pada bulan Maret 2013 di Desa Ciela Kec. Bayongbong. Masyarakat sekitar dan siswa – siswi SDN CIELA 1 dan 2 kini mulai memahami bahwa sampah kertas bisa dijadikan barang berharga dan bermanfaat.

Gambar 2. Membuat GreenBooks
 
Kesimpulan

Alam sudah banyak menyediakan sumber daya untuk kemaslahatan hidup manusia. Sebagai generasi muda, mari kita berikan contoh terbaik kepada orang-orang disekeliling kita. Dari sampah pun bisa menjadi pedoman bagi kita semua bahwasanya hal kecil yang biasa ita anggap sepele ternyata berakibat besar dan merugikan bagi kita dan juga alam sekitar berdasarkan fakta-faktanya. Pemuda adalah tonggak bangsa, jika pemudanya bersih dalam berucap dan berperilaku, semesta pun akan menjadikanya sebagai alam yang bersih .
Diki Irdan

Follow my activity with @SAFEducation on providing free education for children and giving themself-awareness aout how easy to loving environment and reach all of their dreams in the future. Together, we can make a change ! :)