Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Februari 2014

Sewaktu Ayahku Masih Ada -Kampung Halaman-


Sewaktu  Ayah  Masih Ada
“ Kampung Halaman “

Namaku Diki Ramdani, tapi lebih sering dikenal Diki Irdan, nama siaran ku disebuah program radio yang dulu pernah aku pegang sewaktu kelas 2 SMK. Aku anak keempat dari empat bersaudara. Ibuku bernama Iis Iskandar, seorang ibu rumah tangga yang sampai saat ini masih sangat semangat berjuang memperjuangkan pendidikan anaknya hingga bangku kuliah tanpa ditemani kehadiran seorang suami. Ya, Ayahku sudah meninggal sejak lama, sudah sepuluh tahun aku, ibu dan kakak-kakak ku hidup tanpa seorang Ayah.  Saat ini aku berkuliah di Politeknik LP3I Bandung dengan jurusan Public Relations atau yang lebih sering dikenal Hubungan Masyarakat dan tepatnya, senin tanggal 17 Februari 2014 nanti aku mulai menginjak semester keempat. Rasanya rasa syukur ini tidak pernah bisa aku hentikan. Bagaimana bisa ibuku mengkuliahkan ku tanpa bantuan sosok dermawan, beliau adalah Ibu Iman, majikan ibuku yang tinggal di kompleks TNI AU Lanud Husein Sastranegara Bandung.
Banyak orang yang bilang, jangan terlalu sering mengingat masa lalu, lihatlah kearah depan ! Ah, aku tidak peduli dengan itu, yang aku tahu, aku juga punya Ayah seperti kalian, bedanya hanya satu, Ayahku sudah pergi, pergi dan tidak mungkin kembali. Tapi apa salahnya jika aku ingin mengenang sosok Ayah yang pernah sebentar saja hadir dikehidupanku. Nama Almarhum Ayahku adalah Didin Shafrudin, almarhum lahir di Kota Sumedang, sementara ibuku sendiri asli orang Bandung. Sedikit yang bisa kuingat, sebagai kepala keluarga, dulu Ayahku bekerja hanya sebagai sopir taksi, dan juga sopir pribadi untuk sebuah rental mobil dikawasan Jl. Kepatihan Bandung. Walaupun bukan mobil miliknya, tetapi Ayah selalu menyempatkan waktu luangnya untuk sekedar mengajak ku dan keluarga jalan-jalan menggunakan mobil milik bos. Sering sekali dulu, sewaktu aku masih duduk di bangku sd aku diajaknya makan ke beberapa tempat di Kota Bandung. Tetapi bukan itu yang paling berkesan melainkan kunjungan kami sekeluarga ke kampung halaman Ayahku di Desa Sukatali, Kota Sumedang. Jujur, dari kecil aku adalah tipikal anak yang sangat menyukai pemandangan disetiap perjalanan. Semuanya hijau, penuh dengan bukit dan pepohonan. Bisa aku ingat saat kami sekeluarga berangkat dari Bandung menuju Sumedang menggunakan mobil milik bos Ayahku. Rasanya bahagia sekali saat itu. Sepanjang perjalanan, aku selalu banyak bertanya pada Ibuku tentang apa saja yang aku lihat diperjalanan. Ibuku tidak pernah lelah untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang aku lontarkan sekalipun itu menjengkelkan. Sesekali Ayahku yang sedang mengemudi membantu Ibuku menjawab pertanyaan yang ditanyakan olehku. Betapa indahnya suasana itu, bahkan aku masih bisa mengingat senyuman-senyuman yang ada diwajah ibu, ayah dan kakak-kakak ku kala itu.
Sesampainya di Sumedang, kami disambut riang oeh keluarga disana, ada nenekku yang bernama Nana, sering kupanggil beliau dengan sebutan Ma’ Nana,  sementara kakeku bernama Eron, aku selalu panggil almarhum dengan sebutan Abah Eron, ada juga Paman Dana dan Bibi Acah, ada juga Ibu Iyok yang masih saudaraku juga, lucunya, Ibu Iyok badanya sangat gemuk dan suka bercanda dengan celotehanya yang selalu membuat kami semua tertawa. Rumah keluarga ayahku di Sumedang tidaklah mewah, cukup sederhana dan bisa menampung kami keluarga besar untuk berkumpul bersama. Menjelang pagi, suasana kampung halamanku tentu sangat jauh berbeda dengan suasana rumahku di Bandung. Begitu bangun, terdengarlah suara kicauan burung-burung yang berkicau diantara pepohonan, bukan hanya itu saja, suara sapi dan kambing tak kalah menyemarakkan indahnya suasana pagi hari di kampung halamanku. Aku selalu dimanja ditengah-tengah keluarga Ayahku di Sumedang, maklumlah, aku anak bungsu dan pada saat itu, aku masih duduk dikelas satu sd, masih lucu-lucunya. Hampir setiap pagi, aku tidak pernah mau mandi, bukan karena airnya dingin, akan tetapi aku selalu tidak sabaran untuk segera bermain ke area pesawahan Cileles  yang terdapat banyak sekali balongnya (kolam ikan) dan tentu saja pemandangan yang menarik. Sambil dituntun Ayahku menuju Cileles bersama kakak-kakak ku, tidak ketinggalan juga kakekku Abah Eron ikut pergi bersama kami sambil diikuti keenam anjing peliharaanya itu. Ya, kakekku memang seorang penjelajah di hutan-hutan Sumedang, sepulang berjelajah biasanya ada anjing liar ataupun babi hutan yang dibawanya pulang untuk sekedar dipelihara dibelakang rumah. Tetapi hewan-hewan tersebut menjadi jinak setelah dipelihara oleh kakekku. Sesampainya di Cileles, aku bersama Ayahku dan lainya biasanya memancing ikan di kolam milik kakekku Abah Eron. Walau baru berusia 5 tahun waktu itu, tetapi aku cukup mahir juga untuk memancing ikan, sampai-sampai, hanya umpanku saja yang selalu diburu ikan-ikan dibanding dengan umpan kakak-kakak ku. Selesai mancing ikan, kami membawa ikan-ikan hasil pancingan kami ke rumah dan kami bakar bersama-sama. Terlihat bagaimana bahagianya raut-raut wajah Ibuku, nenek, kakek, ayah dan keluargaku semua selama kami membakar ikan bersama-sama. Tuhan, inikah yang disebut dengan kebahagiaan, sungguh sederhana, sangat sederhana. Menjelang sore menuju malam, kami beristirahat dengan harapan bisa menemukan hari esok dengan kebahagiaan yang lainya.
Ternyata benar saja, esoknya, saat aku bangun, Ayahku mengajak aku pergi ke lapangan RW setempat, katanya ada “Pagelaran Adu Domba Garut”, mendengar itu, jelas saja aku penasaran dan ingin segera melihat pertunjukan ketangkasan domba yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ternyata benar, dilapangan RW setempat yang tak jauh dari rumah kakek dan nenek ku, sudah banyak orang-orang berkumpul mengelilingi lapangan untuk menyaksikan adu ketangkasan hewan bertanduk dua itu. Senangnya aku pada saat itu, langsung saja aku tarik tangan Ayahku dan mengajaknya untuk mengambil posisi paling depan agar dapat dengan jelas menyaksikan pertunjukan itu. Bisa kudengar suara mandor pertunjukan yang memimpin jalanya adu ketangkasan domba itu, berteriak dan terus memancing euphoria penonton untuk menyemangati domba-domba yang sedang bertanding. Aku lihat domba hitam dan domba putih dengan masing-masing tanduk yang besar dan kuat saling beradu satu sama lain. Bukan main, selama pertandingan domba garut itu, aku terus berteriak-teriak seolah-olah mendukung salah satu hewan yang sedang ditandingkan itu. Pertandingan pun selesai, saatnya aku pulang ke rumah, sepanjang jalan menuju rumah nenek, karena aku yang kelelahan, Ayah menggendongku di punggungnya, masih bisa aku rasakan dekapan hangat tubuh Ayah kala itu, sambil mengobrol tentang adu ketangkasan domba tadi, akupun asyik memandangi satu persatu pohon dan rumah-rumah penduduk disekitar kampung halaman tempat nenek dan kakek ku tinggal. Ya, betapa polosnya aku waktu itu, aku masih berusia lima tahun, tetapi sudah duduk dibangku sd kelas satu, seharusnya aku mengenyam bangku taman kanak-kanak terlebih dahulu, tapi apa boleh buat, ibu dan ayah tidak punya cukup biaya, jadi dilangsungkan saja ke sekolah dasar. Waktu tidak terasa sudah menjelang sore, saatnya aku untuk mandi, berbicara tentang mandi, ada yang unik dikampung halamanku tentang tradisi mandi. Karena kami memiliki area pesawahan yang juga terdapat tempat-tempat mandi terbuat dari bambu dengan sumber mata air dari pegunungan, biasanya setiap pagi dan sore hari, banyak sekali warga desa yang berbondong-bondong mandi di pemandian umum yang letaknya ada di area pesawahan Cileles. Ada yang bersama anaknya, sambil membawa cucian, ada juga yang dengan sengaja membawa kambing peliharaanya untuk juga ikut dimandikan. Lucu sekali ! hahahaha, ya itulah suasana dikampung halamanku. Begitu juga dengan keluargaku, menginjak waktu sore, aku dan keluarga ku pergi mandi ke Cileles, kebetulan disana ada tempat mandi yang memiliki dua sumber mata air atau bisa disebut  pancuran  dalam bahasa sunda. Pancuran yang ada biasanya dibuat dari pipa paralon atau bambu-bambu panjang. Segar sekali rasanya bisa mandi dengan air yang langsung dari pegunungan. Walaupun jaraknya lumayan jauh, tetapi karena sudah menjadi tradisi, jadi tidak menjadi beban untuk warga desa  mandi ke Cileles. Selain sambil jalan-jalan, di Cileles, kita juga bisa merasakan ketenangan dengan banyaknya pepohonan dan area pesawahan hijau, ditambah lagi gemericik air sungai-sungai kecil yang menambah sejuknya kearifan lokal yang ada disana. Oh iya, selain tempat mandi, ada juga tempat buang air besar yang diletakan diatas kolam ikan / balong milik warga desa, lucu sekali jadinya, begitu kotoran dikeluarkan, ikan-ikan dikolam itu berebutan seperti berebut umpan, hahahahaa, kadang aku selalu tertawa sendiri kalau aku mengingat yang satu ini. Mandi sore selesai, kembali lagi menginjak waktu malam. Seperti biasa, disana ketika malam hari, hanya ada suara-suara binatang malam dan jangkrik, jarang sekali terdengar suara bising kendaraan maupun lalu lalang masyarakat sekitar. Berbeda dengan diperkotaan, disini  sehabis adzan isya jarang sekali ada aktivitas masyarakat desa diluar rumah, mungkin ini yang dinamakan kearifan lokal yang masih ada dikampung halamanku Sumedang, Desa Sukatali.  
Waktu terus berlalu, yang aku ingat, satu tahun kemudian setelah aku pulang kembali ke Bandung, tepatnya pada tahun 2002, terdengar kabar yang sangat tidak diharapkan oleh aku dan keluargaku di Bandung. Kami mendapat telepon dari Sumedang bahwasanya, Abah Eron kakek ku meninggal. Bukan main, betapa sedihnya Ayahku mendengar kabar itu, aku lihat mata ayah dan ibuku juga kakak-kakak ku berlinangan air mata saat mendengar kabar tersebut yang didapat lewat telepon. Waktu itu Ayahku baru pulang dari pekerjaanya dan lanngsung harus menerima kabar duka, aku yang masih duduk di kelas dua sd masih belum terlalu mengerti apa yang harus dilakukan saat itu. Aku hanya diam dan sesekali aku ikut menangis ketika aku lihat semuanya menangis. Malam itu juga, Ayahku bergegas menuju Sumedang untuk melayat Ayah nya, Abah Eron yang mana adalah kakekku sendiri yang meninggal dan harus pergi untuk selama-lamanya. Bisa aku bayagkan perasaan Ayah pada saat itu. Yang aku dengar, setelah kepergian kakek ku Abah Eron, binatang-binatang peliharaanya yang almarhum bawa satu demi satu pergi menghilang, entah kemana, mungkin mereka tahu bahwa tuanya sudah tidak ada lagi disini. Anjing-anjing itu kembali kehabitat mereka di hutan. Keluarga nenek ku di Sumedang menjadi sedikit sepi setelah ditinggal pergi kakek ku. Abah Eron adalah sosok yang bisa memecah suasana sunyi menjadi riang. 7 hari kakek ku berlalu, aku dan keluarga di Bandung memutuskan untuk berangkat kembali ke Sumedang karena akan diadakanya syukuran tahlil tujuh hari kepergian kakek. Manusia mati meninggalkan nama, juga kebaikan. Mungkin itu salah satu peribahasa yang cocok yang aku buat sendiri untuk kakek ku. Aku ingat saat tahlil ke tujuh kepergian kakek, banyak sekali jamaah yang datang. Sampai-sampai, untuk tahlil saja harus menggunakan tiga rumah karena penuhnya jemaah yang datang sekedar ikut mendoakan kakek ku Abah Eron. Hingga satu ekor sapi pun dijual oleh nenek ku untuk membiayai biaya syukuran tahlil itu. Seusai tahlil dilaksanakan, aku dan keluargaku kembali pamit ke Bandung. Aku harus sekolah, begitu juga kakak-kakak ku yang kala itu masih duduk dibangku sekolah menengah pertama dan atas. Life must go on ! Ya, kehidupan harus tetap berjalan, aku lihat setelah kepergian kakek ku Abah Eron, Ayah sedikit murung, entah kenapa, tapi aku yakin, itu karena Ayah ku sedih kehilangan sosok Ayah yang selama ini membesarkanya. Aku mengerti perasaan Ayahku saat itu, ya, aku coba untuk mengerti.

Tahun 2002 berlalu, aku sekarang sudah menginjak kelas 3 sd, ya, ini adalah tahun 2003. Kakak terbesarku, sudah lulus dari bangku SMA, Teh Ika sekarang bekerja di salah satu pabrik garmen di Bandung. Sementara kakak laki-lakiku, Deni masih bersekolah di SMP Yaqin, begitu juga dengan kakak ketiga ku yang perempuan, Iin, dia masih duduk dibangku kelas 5 sd. Ya, saat itu adalah saat dimana biaya kehidupan keluargaku sangatlah kritis. Ayahku yang hanya bekerja sebagai sopir taksi dan sopir mobil rental perusahaan swasta harus menafkahi istri dan keempat anaknya yang bersekolah. Bisa dibayangkan betapa kerasnya kerja keras Ayahku waktu itu. Sempat aku berfikir untuk ikut bekerja, tetapi apa yang aku bisa di usia ku yang baru delapan tahun dan baru duduk dibangku kelas 3 sd ? Ada yang mengajak ku untuk meminta-minta dijalanan, tetapi Ibuku dengan keras melarangku meakukan perbuatan itu, masih aku ingat ucapanya waktu itu “ walaupun kita kekurangan, kita tetap harus bersyukur dan berusaha, bukan berarti meminta-minta”.  Oleh karena itulah, aku bersyukur, dan dengan bersyukur, rezeki selalu datang. Tidak jarang, Ayahku yang pulang malam dari pekerjaannya selalu membawakan kami sekeluarga Donkin Donnut, donat mahal yang ia peroleh dari pemberian bos nya. Alhamdulilah, kadang setiap malam pukul sepuluh atau sebelas malam, saat aku dan kakak-kakak ku sudah tidur, kami terbangun dan tentu saja langsung melahap donat yang dibawa Ayah sepulang kerja. Senangnya pada saat itu.
Menginjak bulan ramadhan 2003, Ayah dan Ibuku membangun warung kecil di depan jalan LMU Suparmin, tepatnya di daerah kompleks TNI Angkatan Udara Husein Sastranegara. Sedikit demi sedikit, isi warung tersebut dipenuhi oleh Ayahku dan Ibuku. Mungkin strategi ini untuk mengurangi beban hidup keluarga yang hanya mengandalkan dari penghasilan Ayah yang tidak seberapa. Warung keluargaku pun alhamdulilah bisa dikatakan warung yang laris kala itu. Hampir seluruh warga di lingkungan ku maupun di lingkungan kompleks TNI AU Husein semuanya menjadi pelanggan setia warung keluargaku. Warung nya tidak terlalu besar dan juga bukan grosir, hanya saja pada saat itu memang hanya warung Ibu ku saja yang bisa dikatakan lengkap, jadi semua pembeli berdatangan. Tidak lama setelah itu, hari raya idul fitri pun tiba. Hari dimana semua umat islam seharusnya berbahagia dan berkumpul bersama keluarga tercinta. Tetapi apa yang terjadi dengan keluargaku ? Tepat pada hari Selasa tanggal 25 November 2003, seperti biasanya pada pagi hari aku dan keluargaku merayakan Hari Raya Idul Fitri dan berkeliling lingkungan rumah untuk bersalaman, setelah itu kami bersama-sama pergi ke makam untuk menziarahi makam nenek dan kakek dari Ibuku. Sepulang dari makam kami beristirahat. Tepat pukul lima sore, aku dan keluargaku berada diwarung yang masih ditutup karena  memang masih situasi lebaran, tapi tiba-tiba Ayahku meringik dan terduduk disamping pintu warung sambil memegang dada nya yang sebelah kanan dengan kesakitan. Aku panik ! Ibuku pun juga begitu, Ayahku yang baru saja mandi dan sudah rapi berpakaian tiba-tiba saja terduduk lemas memegang dada nya yang sebelah kanan dan terus meringik kesakitan, sontak Ibuku menangis dan berteriak meminta tolong kepada tetangga-tetangga yang ada.  Berdatanganlah tetangga-tetanggaku dan masuk kedalam warung menghampiri Ayahku yang sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang ada didadanya itu. Aku bingung, Ibuku dan kakak-kakak ku menangis melihat Ayahku yang dikelelilingi banyak orang dan dibimbing agar tidak kesakitan. Melihat Ibuku yang semakin menangis sambil menyebut-nyebut Ayahku, akupun ikut terharu dan menangis, menangis sebesar-besarnya. Karena situasi dan luas warungku yang kecil, maka tetangga-tetangga ku memutuskan untuk membawa Ayahku kerumah ku yang tidak jauh letaknya dari warungku. Diangkatlah Ayahku yang masih terus berteriak kesakitan menuju rumahku. Tiba disana, beberapa tetangga dan orang-orang yang berada dirumahku ikut menangis melihat situasi ini. Aku lihat Ibuku sudah sangat khawatir dan hampir pingsan, Ayahku memanggil nama anggota keluarganya satu demi satu, akupun menghampiri Ayahku, begitu juga dengan Ibuku dan kakak-kakak ku. Bisa kulihat Ayahku yang terus-terusan memanggil namaku, Ibuku dan kakak-kakak ku sambil terus-terusan membaca syahadat dan kalimat-kalimat suci yang juga dibimbing oleh seorang tetanggaku. Ah, aku tahu, aku tahu bahwa itu adalah saat-saat sakaratul maut, aku baru tahu sekarang. Tidak henti-hentinya kalimat-kalimat suci itu diucapkan Ayahku, Ibuku jatuh pingsan, kakak perempuanku jatuh pingsan, aku terus menangis dan berteriak seolah-olah tidak ingin Ayahku pergi, pergi untuk selamanya. Beberapa saudara-saudara ku sibuk menelepon dokter, beberapa warga yang menyaksikan ikut menangis, sungguh sangat mencekam disore itu. Masih bisa aku ingat suara-suara kesedihan, termasuk suaraku sendiri yang menangis melihat Ayahku yang sudah tidak berdaya lagi. Sambil dibimbing mengucapkan kalimat syahadat oleh tetanggaku yang berada tepat disamping Ayahku, tiba-tiba terdengarlah suara adzan maghrib, dan pada saat itu pula, pada saat takbir kedua adzan maghrib, Ayahku menghembuskan nafas terakhirnya. Berat sekali rasanya, teriakanku habis, airmataku ini sudah tidak terbendung lagi, Ibuku histeris dan jatuh pingsan sambil terus-menerus meneriakan suara takbir dan istighfar. Terdengar pula olehku suara beberapa tetanggaku dan kakaku yang laki-laki, Deni mengaji untuk mendoakan Ayahku. Dan ketika diperiksa, ternyata benarlah sudah, Ayahku sudah pergi. Lemas sekali rasanya, sakit, lebih dari sakit. Ada perasaan belum percaya, tetapi apa yang harus disembunyikan? Ini yang sebenarnya sedang terjadi menimpa keluargaku. Suara tangisan Ibuku, aku dan orang-orang yang juga ada dirumahku membuat aku semakin sedih. Entah bagaimana perasaan Ibuku, secara tiba-tiba harus kehilangan sosok yang menjadi kekuatan dalam hidupnya untuk membesarkan keempat anak-anaknya ini.
Betapa mahalnya waktu itu, sama sekali aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan ditinggal pergi Ayahku sendiri. Bahkan dalam situasi seperti ini, siapa yang mau ? Siapa ? Tidak ada ! Seperginya Ayahku menuju tempat yang sesungguhnya, ucapan duka berdatangan dari sanak saudara, kerabat dan juga rekan kerja Ayahku. Sama sekali mereka semua tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Ya memang, karena Ayahku tidak mengidap penyakit kronis ataupun penyakit lainya. Tapi aku sadari, ini bukan masalah penyakit, ini masalah takdir Allah, pemilik dari segala sesuatu dimuka bumi ini. Dan sekarang, aku sudah beranjak hampir menuju kedewasaan, usiaku sudah 18 tahun. Aku berjanji, akan menjaga Ibuku, dan kakak-kakak ku, aku berjanji akan menjadi kebanggaan untuk keluargaku nanti. Setelah menulis cerita ini, aku berjanji untuk tidak iri lagi kepada mereka yang Ayah nya masih ada, aku akan selalu mendoakan agar Ayah dan Ibu kita yang masih ada selalu diberikan kesehatan dan kekuatan, hingga nanti, dibatas waktu nanti, mereka bisa melihat kita sukses. Amiin. Terimakasih sudah membaca cerita ini, sebenarnya masih panjang yang ingin aku ceritakan, tetapi rasanya cukup sampai disini saja. Jika aku ingat Ayahku, aku selalu ingat akan Kampung Halamanku, terlalu banyak kenangan indah yang masih bisa  aku ingat sampai detik ini. 

Diki Irdan and Family
Cerpen ini sedang dilombakan di http://hut1.xpressijurnal.com/detail.php?lomba=1&id=92
Semoga bisa menginspirasi :)

Selamat Jalan Nabila (Nabila dan Fahri)


Selamat Jalan Nabila
(Nabila dan Fahri)
Siapa yang tahu rencana Tuhan ? Tidak ada ! Satupun dari kita tidak pernah bisa menebak apa yang akan terjadi pada diri kita, sekalipun menebak-nebak, kenyataanya selalu tidak sesuai dengan harapan. Ya, itulah yang dialami Nabila, gadis remaja berusia 17 tahun itu kini hanya bisa terbaring kaku di sebuah kamar rumah sakit, berharap Tuhan menyembuhkanya, atau dengan segera mengakhiri waktu hidupnya. Tidak ada pilihan lain.Rasanya belum lama ini, kondisi Nabila masih baik-baik saja, kecelakaan yang dialami Nabila membuatnya harus pasrah dengan takdir yang diberikan Tuhan.
Nabila adalah sosok yang selalu ceria, ia duduk dibangku kelas 2 SMA di Kota Bandung. Dikelas, banyak sekali anak-anak pria yang menyukai Nabila, tapi selama ini Nabila tidak mau merespon atau melirik satupun dari mereka yang menyukai dirinya, bukan karena ia sombong atau sok jual mahal, tetapi ia menyimpan perasaan yang tulus untuk seseorang, ia masih memendamnya dan belum berani mengungkapkan rasa cintanya itu, ia pikir, suatu saat nanti, akan ada waktu yang tepat untuk menceritakan perasaanya ini. Nabila tinggal bersama Ibunya, Ayahnya sudah meninggal lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ya sekitar tahun 2003, Nabila ditinggal pergi Ayahnya secara tiba-tiba karena sakit. Saat ini Nabila sudah menginjak usia remaja, bersama Ibunya yang hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, mereka  berjuang untuk bisa bertahan melawan kehidupan yang keras di zaman modern ini. Untungnya bakat Nabila dalam berbicara bisa membuatnya mendapatkan pekerjaan sampingan sambil sekolah dengan menjadi penyiar radio di salah satu stasiun radio swasta di Kota Bandung. Lumayanlah, setidaknya penghasilanya dari bekerja sampingan sebagai penyiar radio bisa sedikit meringankan beban Ibunya untuk membiayai kebutuhan Nabila. Sekitar pukul 07.00 malam ketika Nabila harus pergi ke radio untuk siaran di program acaranya, ia diantar oleh Fahri. Ya, Fahri adalah sahabat Nabila dari kecil. Sosok pria remaja yang sangat tampan dan perhatian kepada Nabila. Tapi mereka hanya bersahabat, tidak lebih. “ Makasih ya ri, jangan lupa loh, dengerin aku siaran malam ini ! “ ungkap Nabila sambil tersenyum kepada Fahri seraya turun dari motor. Fahri mengangguk dan menjawab “ Iya Na, tenang aja, ntar aku request lagu pokoknya ! Oh iya, pulangnya aku jemput ya kayak biasa “ ucap Fahri. Ya, karena Nabila baru selesai siaran jam 10 malam, Fahri selalu bersedia menjemput pulang sahabatnya itu, mungkin Fahri kasihan melihat Nabila yang harus bekerja sambil sekolah dan harus pulang sendirian ditengah malam. Sebagai sahabat, ia rela menjemputnya, dengan ikhlas.
Paginya, sebelum Nabila berangkat ke sekolah, ia ditanya oleh Ibunya, “Apa kamu gak capek siaran malam terus Na ? “ tanya Ibu kepada Nabila. Mendengar pertanyaan itu, Nabila tersenyum, menghela nafas dan menjawab “ Hmmh, gak apa-apa bu, ini kan hobi aku, lagian juga lumayan kan buat nambah-nambah uang sekolah “ lembut sekali jawaban Nabila menjawab pertanyaan Ibunya. Mendengar jawaban dari Nabila, Ibunya tidak tega melarang lebih jauh pekerjaan sampingan yang juga merupakan hobi Nabila itu. “ Ya sudah kalo begitu “ jawab ibu sambil tersenyum dan mengusap rambut Nabila. “Aku berangkat dulu ya bu, Assallamualaikum “ pamit Nabila kepada Ibunya. Sesampainya disekolah, sebelum jam belajar dimulai, Nabila duduk dibangku taman sekolah dan mengobrol dengan beberapa temanya. Tiba-tiba dari belakang ia dikagetkan oleh Fahri “ Daarr ! “ Nabila pun kaget dan sedikit marah “ Fahri ! kirain apaan, ngagetin aja ! “ ucap Nabila. Merekapun duduk ditaman dan mengobrol banyak, tapi ada yang berbeda, wajah Fahri lebih ceria dari biasanya. Ternyata benar, Fahri sedang jatuh cinta kepada teman sekelasnya, namanya Sheila, gadis yang sangat cantik. Mendengar itu, Nabila tersenyum dan menjawab “ Kalo kamu suka, kamu kejar dia Ri, tunjukin kalo kamu pantas buat jadi cowok dia ! “ Fahri pun tampak senang dengan ucapan Nabila, “ Makasih ya na, oh iya, ntar malem pas kamu siaran aku mau request lagu buat dia ya, tapi aku pasti calling dia juga hehehe “ ungkap Fahri sambil tersenyum-senyum sendiri, “ iya iya, siap ri “  jawab Nabila. Seperginya Fahri ke kelas, Nabila yang masih duduk di bangku taman sekolah tiba-tiba berubah ekspresi wajahnya yang tadinya tersenyum, tiba-tiba sedikit sedih. Entah kenapa, tapi wajahnya sedikit murung mendengar cerita Fahri.  Bel sekolah berbunyi, tandanya pelajaran sekolah sudah selesai. Nabila terlihat berjalan sendiri menuju gerbang sekolah untuk pulang, ketika ia berjalan melewati gerbang sekolahnya, suara klakson motor berbunyi dari belakang, ternyata itu Fahri. Nabila kira Fahri akan mengantarnya pulang, tapi ia lihat ada perempuan yang dibonceng Fahri. “ Na, aku duluan ya, kamu hati-hati ya Na! “ sapa Fahri kepada Nabila sambil terlihat senyum kegirangan bisa mulai dekat dengan cewek yang disukainya itu. “ Iya ri, hati-hati ya ! “ jawab Nabila. Fahri pun berlalu dan sama sekali cewek yang diboncengi Fahri tidak menyapa Nabila, entah cemburu atau tidak tapi mungkin dia masih malu untuk menyapa Nabila. Sepanjang perjalanan pulang, didalam angkot, Nabila memandangi jalan, sepertinya ia memikirkan sesuatu, ya ia memikirkan Fahri. Nabila mengingat semua hal yang sudah ia lalui bersama Fahri sahabatnya sejak kecil itu. Dalam hatinya, ia berkata “ Ya Allah, ada apa aku ini,kenapa tiba-tiba aku seperti cemburu kalo Fahri dekat sama wanita lain “ Nabila berhenti memikirkan hal itu ia kembali memandangi jalan lewat jendela angkot tanpa memikirkan Fahri.
Sesampainya dirumah, Nabila bergegas mengganti pakaianya dan langsung pamit kepada Ibunya, “ bu, Nabila pamit ya, ada buku yang harus dibeli untuk semester ini “ pamit Nabila kepada Ibunya yang sedang membersihkan rumah. “Iya Na, berangkat sama siapa? Fahri ? “ tanya Ibu kepada Nabila, mendengar itu, ia hanya tersenyum dan menjawab “ enggak bu, Fahri lagi ada urusan, aku pergi sendiri “ jawabnya sambil tersenyum dan sedikit menghela nafas panjang. “Ya sudah hati-hati ya” ucap Ibunya, Nabila pun pamit dengan mencium tangan Ibunya. Akhirnya ia sampai di toko buku yang ia tuju, dengan gaya yang sederhana, kardigan merah dan celana pendek yang ia kenakan, terlihat sangat cantik sekali Nabila di siang hari itu, ia pun segera menuju rak buku tujuanya yaitu buku Biologi yang menjadi tugas hampir seluruh siswa disekolahnya menjelang ujian praktikum Biologi. Sambil meilih-milih buku, tiba-tiba ia lihat dipojok kanan toko buku, terlihat Fahri yang juga sepertinya sedang mencari-cari buku yang sama. Tapi Fahri tidak sendiri, ia bersama dengan wanita bernama Sheila, teman sekelasnya yang ia kagumi akhir-akir ini. Sontak, Nabila kaget dengan apa yang dilihatnya, tetapi sepertinya Fahri dan Sheila masih kebingungan mencari buku yang ditugaskan dari sekolah. Nabila pun menghampiri mereka. “ Hai, ri, lagi cari buku juga ? “ tanya Nabila, “ Ia Na, oh iya nih, belum kenalan ya, kenalin nih, Sheila “ jawab Fahri sambil sedikit malu-malu mengenalkan Sheila kepada Nabila. Sambil terenyum, Sheila pun menjabat tangan Nabila, “ Hai, aku Sheila, kamu pasti Nabila ya ? Fahri banyak cerita nih tentang kamu ” ucap Sheila kepada Nabila. Mendengar itu Nabila tersenyum seraya menjawab “ Ah, iya, aku Nabila, temen Fahri dari SD “. Merekapun berkenalan dan saling mengobrol satu sama lain, sesekali Nabila menatap wajah Fahri yang dilihatnya berbeda dari biasanya, semenjak bersama Sheila, wajah sahabtnya itu semakin terlihat riang, berbeda sekali. Selesai membeli buku, mereka bertiga pun meninggalkan toko buku, karena motor yang dibawa Fahri hanya bisa digunakan untuk membonceng satu orang, Nabila pun mengalah dan membiarkan Fahri mengantar Sheila untuk pulang. Ya, biasanya kemana-mana Nabila selalu diantar Fahri, tapi sekarang berbeda, Fahri sedang merasakan apa yang dinamakan cinta.
Siang berganti malam, hari ini jadwal siaran Nabila di radio kebetulan sedang kosong, jadi ia bisa diam dirumah dan tentunya belajar. Tepat setelah adzan maghrib, Nabila sembahyang dan segera belajar untuk tugas Biologi yang tentunya harus ia siapkan karena besok kegiatan praktikum disekolah untuk siswa kelas 2 akan serentak dilaksanakan di laboratorium sekolah. Nabila terlihat sedang menyiapkan peralatan yang besok harus ia bawa, diantaranya ada jas laboratorium dan lainya. Setelah menyiapkan peralatan yang harus dibawanya besok, ia duduk dimeja belajar kamarnya sambil membaca buku Biologi yang dibelinya siang tadi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, “ Tok tok tok ! “ terdengar ketukan pintu itu berulang-ulang. Ibu yang sedang menonton TV segera membuka pintu dan ternyata yang bertamu adalah Fahri. “ Eh Assallamualaikum bu, Nabila nya ada ? “ tanya Fahri yang pada saat itu mengenakan jaket jeans dan membawa tas belajar. “ Waalaikumsalam, oh Fahri, ayo masuk, Nabila ada dikamar, Ibu panggilkan ya, ayo masuk ri “ begitulah ramahnya Ibu Nabila mempersilahkan sahabat putrinya itu untuk masuk kedalam rumah. Masuklah Fajri dan duduk di ruang tengah, sementara Ibu memanggil Nabila yang sedang berada dikamar. “ Na, ada Fahri “ panggil Ibu didepan pintu kamar Nabila, “ iya bu, iya “ Nabila pun keluar kamar sambil masih membawa buku Biologinya yang sedang ia baca. “ Ibu bikinin air ya “ mendengar itu, Nabila meminta agar dirinya saja yang membuatkan air minum untuk Fahri. “ Ga usah bu, biar sama Nabila aja, Ibu mending istirahat, kan cape seharian udah kerja “ ucap Nabila. “Iya sudah kalo begitu, nak Fahri Ibu tinggal dulu ya, Ibu mau istirahat “ masuklah ibu kedalam kamar. Ya, karena sudah menjadi sahabat sejak kecil, jadi cukup biasa bagi Ibu Nabila mempersilahkan putrinya untuk bersama Fahri, sekedar mengobrol di ruang tengah seperti adik dan kakak, kebetulan memang usia Fahri diatas Nabila, jadi persahabatan mereka sudah seperti kakak dan adik. Denga membawa minuman hangat yang dibuatkan Nabila, susu cokelat hangat untuk Fahri dan susu cokelat putih untuk dirinya sendiri, ia pun menghampiri Fahri yang sudah menunggu diruang tengah. “ Hai, tumben kamu main kesini, gak pacaran ri ? “ celoteh Nabila sambil sedikit menyindir Fahri yang memang sedang jatuh cinta kepada Sheila. “ Ah kamu bisa aja Na, hahaha, wah tahu aja nih kesukaan aku dari dulu “ balas Fahri yang sangat senang sekali dibuatkan susu cokelat hangat oleh Nabila. Ya, dari kecil , memang keduanya memiliki kesukaan tersendiri, Nabila yang sangat menyukai susu cokelat putih dan sebaliknya Fahri yang menyukai susu cokelat hangat. Nabila duduk disamping Fahri, tersenyum sambil memegang buku Biologinya yang masih ia baca untuk persiapan praktikum esok. “ Ada apa nih ri, mau belajar bareng ? “ tanya Nabila. “ Enggak sih Na, mau curhat, boleh ? “ ucap Fahri sambil senyum-senyum sendiri. “ Ya, boleh, tapi kamu udah baca-baca belum buat praktikum besok ? “ tanya Nabila, “ udah dong, tadi sore udah aku baca semuanya na, soalnya malemnya aku pengen cerita banyak sama kamu “ balas Fahri, sedikit penasaran, Nabila tersenyum sambil bertanya-tanya dalam hatinya, kira-kira apa yang akan diceritakan sahabtnya it. Fahri pun mulai bercerita bahwa dia sebenarnya sudah jadian dengan Sheila sepulang dari toko buku siang tadi. Ya, mendengar itu, tentu Nabila ikut senang karena akhirnya sahabatnya bisa mendapatkan pacar yang disukainya. “ Oh iya na, kan ceritanya aku sekarang udah jadian, aku besok mau ajak jalan-jalan kamu deh boleh ? beres pulang dari sekolah, kebetulan besok Sheila ada les biola sampe sore, jadi aku kosong nih, mau aku traktir apa nih ? “ tanya Fahri kepada Nabila. “ Ah, kamu, emang aku udah ngapain sih sampe mau ajak jalan segala ? “ tanya Nabila keheranan, “ ya gak gitu, kan kamu sahabat terbaik aku Na, sekarang aku lagi seneng nih, jadi bolehlah aku bagi-bagi seneng aku “ jawab Fahri. Nabila tidak banyak menolak, iya pun mengiyakan ajakan Fahri yang tampaknya memang sedang bahagia karena baru jadian dengan Sheila. Usailah obrolan mereka, Fahri pamit pulang kepada Ibu, waktu sudah menunjukan pukul 09.00 malam. Nabila masuk kekamarnya dan siap-siap untuk tidur. Sebelum tidur, ia tidak sengaja membuka album foto yang ia punya. Isinya ada foto keluarga dan juga foto-foto masa kecilnya bersama keluarga, teman-teman, termasuk Fahri, sahabat dekatnya itu. Sambil ia lihat foto demi foto, sedikit ia meneteskan airmata sambil mengusap beberapa fotonya dimasa kecil bersama Fahri. Entah apa yang ada didalam pikiran Nabila, tapi air matanya perlahan menetes setiap ia buka dilembaran foto tersebut yang ia lihat adalah foto-fotonya bersama Fahri sejak ia kecil dulu. Sebelum ia tidur, masih terlihat Nabila yang memandangi langit-langit kamar, memikirkan seseorang dan memikirkan hari esok. Dalam hatinya bertanya, “ kira-kira besok Fahri mau ajak aku kemana ya?Ah, gimana besok aja lah “.
Pagi tiba begitu cepatnya, nampak Nabila terlihat begitu semangat. Sebelum berangkat ke sekolah, ia mendekati Ibunya, ia memeluk Ibunya dan berkata “ Bu, aku berangkat dulu ya bu, oh iya, makasih banyak ya bu, selama ini Ibu udah jadi Ibu terbaik buat aku, aku selalu berdoa semoga Ibu sehat, ibu panjang umur, Nabila berangkat ya bu, Assallamualaikum “ mendengar perkataan itu, Ibu Nabila terlihat sedikit kebingungan dan aneh, ada apa dengan Nabila, mengapa ia berkata demikian seolah-olah akan berpisah ? “ Ah, iya na, kamu hati-hati ya Na, kamu juga anak yang sudah cukup membanggakan Ibu “ Nabila pamit,memluk ibunya dan mencium tangan ibu yang sudah melahirkanya itu. Jauh dilubuk hati Ibu, sebenarnya ada perasaan tidak enak yang dirasakan Ibu Nabila, tapi sebagai Ibu, tentu saja harus selalu berprasangka baik kepada anaknya agar selalu diberikan keselamatan. Nabila pun berangkat ke sekolah. Tibanya ia disekolah, praktikum Biologi pun dilaksanakan dengan serentak. Seluruh kelas dua SMA menuju Laboratoium Biologi untuk melaksanakan praktikum. Terlihat Nabila yang mengenakan jas lab berwarna putih sudah sangat siap dengan praktikum Biologi. Terlihat pula oleh Nabila Fahri yang memegang tangan Sheila yang juga mengenakan jas lab berwarna putih dari kejauhan. Nabila tersenyum, sesekali ia melambaikan tanganya kepada sahabatnya dan Sheila. Praktikum pun dilaksanakan. Seluruh siswa dengan serius mengikuti prosedur praktikum dengan baik. Terlihat betapa semangatnya Nabila menlaksanakan praktikum Biologi yang sudah ia pelajari sebelumnya dirumah dengan membaca buku panduan yang ia belinya kemarin siang. Kegiatan praktikum pun selesai, terdengar dipengeras suara setiap laboratorium diumumkan bahwa kelompok terbaik dalam kegiatan praktikum akan diumumkan dua jam berikutnya. Semua siswa kelas dua tentu sangat menunggu pengumuman itu. Dan tibalah pengumuman itu diumumkan di Mading sekolah dengan daftar nilai kelompok terbaik selama kegiatan praktikum Biologi. Semua siswa memenuhi koridor tempat Mading Sekolah dipasang. Tak ketinggalan, Nabila pun ingin tahu kira-kira siapa yang menjadi kelompok terbaik praktikum Biologi kali ini, dan ternyata, setelah ia berdesakan dan berusaha melihat pengumuman di papan mading, tertulislah kelompok Nabila Putri menjadi kelompok terbaik mengalahkan 16 kelas lainya di sekolahnya tersebut. Ia pun sangat bergembira dengan nilai yang ia peroleh beserta grup praktikum nya dalam mata pelajaran Biologi tersebut. Jam sekolah pun selesai, waktunya Nabila untuk menemui Fahri yang akan mengajaknya jalan-jalan ke suatu tempat yang masih belum ia ketahui. Fahri pun menunggu Nabila digerbang sekolah, kebetulan Sheila sudah pulang duluan karena ia harus segera pergi ke tempat les biola nya. Nabila pun menghampiri Fahri dan segera menaiki motor Fahri. Akhirnya tertebaklah sudah kemana Fahri mengajak Nabila pergi, ia diajak Fahri ke daerah pegunungan di Lembang, ya Tangkuban Perahu. Senangnya Nabila selama diboncengi Fahri menuju kawasan hijau yang sejuk itu. Sepanjang perjalanan ia pandangi pohon-pohon hijau itu sambil berteriak kegirangan, Fahri pun terlihat senang melihat Nabila senang diajaknya ke kawasan Lembang menuju Tangkuban Perahu. Laju motor dan angin berlawanan membuat Fahri dan Nabila semakin menikmati indahnya pemandangan kala itu.  Mereka berdua pun sampai di kawasan wisata Tangkuban Perahu dan langsung mendaki gunung yang memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi dengan legenda sangkuriangya itu. Sesampainya dipuncak gunung tangkuban perahu, Fahri mengajak Nabila duduk disampingnya dan mengobrol. “ Na, indah banget ya pemandanganya “ ucap Fahri sambil memandangi pemandangan Kota Bandung dari puncak gunung itu. “ Iya ri “ jawab Nabila, singkat. Tiba-tiba, Nabila duduk mendekati Fahri, entah mengapa, ia menghela nafas panjang, air matanya tiba-tiba jatuh menetes tanpa alasan. Melihat Nabila yang tiba-tiba menangis, Fahri bertanya keheranan kepada Nabila. “ Kamu kenapa Na ? Kok tiba-tiba nangis ? “ . Nabila menatap Fahri, ia duduk disamping Fahri dan menyandarkan kepalanya dibahu sahabatnya itu. “ Aku gak apa-apa ri “ jawab Nabila, sedikit menyembunyikan sesuatu. Fahri terdiam, ia mengusap kepala sahabat nya itu, entah ia tahu atau tidak apa yang sebenarnya Nabila sedang rasakan. Sebenarnya, Nabila jatuh cinta kepada Fahri, sudah sejak lama, sejak duduk dibangku SMA. Nabila tahu Fahri adalah sahabatnya dari kecil, tapi apa yang bisa ia kendalikan jika hatinya hanya memilih Fahri ? Tapi sampai saat ini, Fahri belum tahu, bahkan Nabila tidak berani bilang. “ Kamu jujur sama aku Na, kamu kenapa ? “ tanya Fahri sekali lagi sambil masih mengusap kepala Nabila yang disandarkan dibahu kirinya. “ Aku ga apa-apa, ri, kalo aku ga ada nanti, jagain Ibu aku ya “ mendengar itu, kagetlah Fahri, “loh, ada apa sih na, kenapa kamu tiba-tiba bilang gitu ? “ Nabila tersenyum, tidak menjawab sedikitpun. Fahri semakin ketakutan, ia membalikan badanya dan memeluk Nabila seraya berkata “ Kamu gak boleh ngomong sembarangan na “ Nabila semakin menangis saat dipeluk Fahri, genggaman tangan Fahri membuat Nabila semakin menangis. Ya, ia rasakan genggaman tangan sahabat yang dicintainya itu. Fahri masih belum tahu, belum. Beberapa saat kemudian, mereka berduapun pulang. Disepanjang perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang diucapkan Fahri maupun Nabila. Tanpa disadari Fahri, motor yang ia kemudikan melaju dengan kencangnya. Dari arah depan, tiba-tiba saja motor yang melaju dengan kencang itu menabrak sebuah taksi dan “ DUARRR ! “ Fahri dan juga Nabila terjatuh dari motor hingga  terluka parah. Lalu lintas jalan tersebut ramai seketika karena adanya kecelakaan tersebut. Nabila dan Fahri dilarikan kerumah sakit terdekat. Keduanya terluka dan mengalami pendarahan yang cukup parah. Dokter segera memberikan pertolongan semaksimal mungkin, namun ternyata Fahri lah yang terluka lebih parah dari Nabila, seetika itu pula, Nabila yang masih terlihat sadar menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya untuk Fahri yang mengalami pendarahan cukup parah karena jika tidak ditolong dengan segera, Fahri tidka bisa diselamatkan. Nabila memaksa dokter untuk mengambil darahnya itu yang kebetulan berjenis golongan sama dengan Fahri yaitu  “0”. Sementara dokter yang tidak bisa menunggu lama lagi demi keselamatan pasienya, dokter pun memutuskan untuk mengambil darah Nabila sebagai donor bagi Fahri karena stok di rumah sakit untuk golongan darah “0” terbatas. Nabila menandatangani surat ketersediaan donor sambil masih terbaring dikasur rumah sakit. Donor pun dilakukan, Fahri yang mengalami pendarahan yang cukup parah tertolong oleh donor Nabila yang membuat Fahri tidak kekurangan cairan tubuhnya itu.
Kondisi Fahri masih belum membaik, begitu juga Nabila, setelah mendonorkan darahnya, Nabila malah menjadi semakin lemas. Barulah setelah pertolongan pertama gawat darurat diberikan, pihak rumah sakit segera menghubungi keluarga Nabila juga Fahri. Ibu Nabila datang segera menuju rumah sakit beserta keluarga Fahri, terlihat Ayah, Ibu dan Kakak-kakak Fahri yang sangat terkejut berlari menuju ruangan dimana Fahri dirawat. Sementara Ibu Nabila menangis sambil berjalan menuju ruang dimana putrinya itu dirawat. Fahri masih belum sadarkan diri, tim dokter menjelaskan apa yang terjadi pada keduanya, bukan hanya itu, dokter juga memberitahukan jika Fahri yang sudah hampir tidak tertolong akibat pendarahan yang cukup parah bisa kembali tertolong karena donor yang diberikan oleh Nabila. Beberapa hari berlalu, Fahri sudah sadarkan diri walau kondisinya masih lemas, tetapi Nabila, karena ia perempuan yang memiliki daya tahan tubuh tidak sekuat Fahri, kondisi tubuhnya melemas. Ibu Nabila tidak henti-hentinya mendampingi putrinya itu setiap hari, menangis dan berdoa agar Nabila bisa kembali ke keadaan seperti semula. Keluarga Fahri pun berada di ruangan Nabila, berdoa dan berharap agar sahabat Fahri yang sudah bersedia mendonorkan darahnya untuk Fahri bisa segera sembuh. Tetapi sayang sekali, ternyata setelah diperiksa lebih teliti oleh dokter, hasil diagnosa rumah sakit menyatakan bahwa Nabila sebenarnya mengalami benturan keras dikepalanya dan baru terasa beberapa hari setelah kecelakaan. Yang paling membuat kondisinya tambah parah adalah ketika Nabila yang memaksakan diri untuk memberikan pertolongan darurat kepada Fahri dengan mendonorkan darahnya dalam jumlah yang banyak. Hingga sampai Fahri sadarkan diri, Nabila masih belum sadar, Ibunya menangis, selalu menangis dan berdoa agar putrinya diberikan kesembuhan juga. Haripun berlalu, sampai sekarang terlihat didalam ruangan Nabila hanya ada Ibu dan Fahri yang menemani Nabila, sisanya, keluarga Fahri dan beberapa teman Nabila dari sekolah menunggu giliran untuk bisa menjenguk Nabila karena memang tidak boleh terlalu banyak orang didalam ruangan itu. Terlihat Fahri yang memegang tangan Nabila, sahabatnya itu kini sama sekali tak berdaya, sesekali Fahri meneteskan airmatanya, mengingat semua hal yang ia lalui bersama sahabatnya. Ibu Nabila masih saja berdoa dan menangis melihat putrinya itu. Ibupun bercerita kepada Fahri, ibu menceritakan Nabila akhir-akhir ini selalu tertidur dikamar dengan memegang album foto masa kecilnya bersama Fahri. Dari situ, Fahri mengerti, ia mengerti bahwa Nabila menyimpan perasaan kepada dirinya. Semakin ia genggam tangan Nabila, ia kecup kening Nabila, hingga akhirnya Nabila menghembuskan nafas terakhirnya. Fahri berteriak “Nabilaaaaa !!! “ Ibu Nabila menangis,  tim dokter berdatangan dan mencoba memberikan pertolongan semampu mereka menggunakan peralatan yang ada, tapi apa daya, Tuhan berkehendak lain, Nabila meninggal sore itu. Terdengar suara tangisan keluarga Fahri yang juga ada di ruangan itu, Fahri terus saja memegang tangan sahabatnya itu, beberapa teman sekolah tak henti-hentinya menangis dari luar ruangan. Ya, Nabila pergi untuk selama-lamanya. Sekarang tidak ada lagi Nabila yang menjadi sahabat terbaik Fahri, yang menjadi penyiar untuk para pendengarnya disetiap malam, yang menjadi putri terbaik dari ibunya, ia harus pulang ke tempat yang sesungguhnya. Nabila menyimpan perasaan cinta untuk sahabat satu-satunya itu, tetapi sampai kematianya, ia tidak berani mengungkapkan perasaanya. Bukan karena ia malu, bukan karena ia takut, ia menghargai persahabatanya dengan Fahri, ia menghargai ketika Fahri mulai jatuh cinta pada Sheila, wanita yang disukainya baru-baru ini. Nabila menyadari bahwa persahabatan tidak akan pernah padam, sesekali Nabila hanya bisa menangis menahan perasaan cintanya untuk sahabatnya itu. Untuk Nabila, itu lebih baik daripada merusak persahabatanya dengan Fahri gara-gara egonya untuk mencintai Fahri, ya, itu karena ia paham, FRIENDSHIP IS NEVER DIES ! J Selamat Jalan Nabila ...


Diki Irdan


Sedang dilombakan dalam Lomba Cerpen Persahabatan Majalah Aneka Yess
Ayo VOTE dengan LIKE ya ! Kunjungi ya  Visit Link nya, terus klik LIKE dibawah ceritanya, thank you :)